Selasa, April 24, 2018

PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI




Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat, sehingga setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya bagi semua manusia, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing serta memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik. Berkaitan dengan hal terebut, maka tujuan pendidikan yang kita harapkan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Pendidikan harus mampu mempersiapkan warga negara agar dapat berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan, cerdas, aktif, kreatif, terampil, jujur, berdisiplin dan bermoral tinggi, demokratis, dan toleran dengan mengutamakan persatuan bangsa.


Bangsa yang maju tidak bisa dipisahkan dari cara pandang dan berpikir yang mencerminkan kesadaran akan pentingnya memajukan sektor pendidikan sebagai tujuan pokok kebangsaan. Pendidikan adalah kekuatan pembentuk masa depan, karena pedidikan merupakan instrumen yang mampu mengubah sejarah gelap menjadi terang. Pendidikan merupakan investasi kemanusiaan karena di sanalah masa depan peradaban ini diproyeksikan. Kini persoalan terbesar bangsa Indonesia adalah bagaimana menyesuaikan serta merancang dunia pendidikan yang mampu menghadapi perubahan dunia yang kian kompleks, cepat, dan sulit diramalkan.

Pendidikan merupakan suatu proses yang sangat kompleks dan berjangka panjang, di mana berbagai aspek yang tercakup dalam proses saling erat berkaitan satu sama lain dan bermuara pada terwujudnya manusia yang memiliki nilai hidup, pengetahuan hidup dan keterampilan hidup. Prosesnya bersifat kompleks dikarenakan interaksi di antara berbagai aspek tersebut, seperti guru, bahan ajar, fasilitas, kondisi siswa, kondisi lingkungan, metode mengajar yang digunakan, tidak selamanya memiliki sifat dan bentuk yang konsisten yang dapat dikendalikan. Hal ini mengakibatkan penjelasan terhadap fenomena pendidikan bisa berbeda-beda baik karena waktu, tempat maupun subjek yang terlibat dalam proses.

Dalam proses modernisasi dan globalisasi sekarang ini, ketika persoalan dan tantangan semakin berat dan kompleks, serta persaingan global yang semakin tajam dan ketat. Maka, peran pendidikan sangat penting, untuk itu perlu adanya kesiapan terkait dengan keadaan kualitas para guru sebagai pengantar pendidikan tidak hanya di sekolah tetapi juga dilingkungan tempat tinggalnya. Namun, realitas yang terjadi menunjukkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari terdapat indikasi menurunnya peranan dan fungsi serta prestasi guru di tengah-tengah pemecahan problem-problem sosial yang terjadi. Penurunan tersebut bisa disebabkan oleh banyak hal, diantaranya adalah visi dan misi keilmuan yang dikembangkan dilingkungan para guru cenderung berorientasi untuk menjaga dan memelihara tradisi keilmuan yang diwarisi dari masa lalu dan kurang semangat melakukan pengembangan dan aktualisasi sesuai dengan tantangan perubahan yang terjadi, maka kualitas keilmuan yang dikuasaipun hanya terbatas pada ilmu-ilmu tradisional yang kurang memberi wawasan yang luas dan tidak banyak mengapresiasi kemajuan ilmu pengetahuan yang berkembang. Selanjutnya adalah komitmen keteladanan dan pengayom peserta didik. Apabila sejarah peran ketokohan guru terdahulu telah menampilkan citra mereka sebagai teladan dan pengayom yang digugu dan ditiru oleh peserta didik dan masyarakat, sekarang ini dengan berkembangnya media informasi dan teknologi banyak pemberitaan yang menyebutkan para pendidik sudah kurang mampu menyandang posisi demikian. Komitmen keteladan dan pengayom terasa sudah memudar. 

Adanya gambaran dan kritik di atas, diharapkan tidak akan membuat para guru merasa tersudutkan dan marah penuh keberangan. Tetapi menyikapi hal tersebut dengan kearifan dan lapang dada, untuk melakukan introspeksi atau self-correction tentang arti jati-diri dan kepribadiannya sebagai seorang guru. Menghadapi perubahan dan tantangan globalisasi yang begitu berat, peran selektif guru nampaknya sikap yang lebih tepat dalam menghadapi proses globalisasi. Dengan sikap selektif ini para guru dan dituntut senantiasa bersikap terbuka terhadap perkembangan yang terjadi, kemudian menyaring dengan parameter norma dan ajaran agama yang berlaku, mana yang patut diserap dan mana yang justru harus dibuang. Dengan sikap selektif tersebut maka sikap keberagamaan yang harus dikembangkan para guru dalam aktivitasnya membimbing peserta didik dapat melahirkan peserta didik yang siap bersaing secara sehat dengan tingkat spritual yang baik, sehinggga mampu bersaing menghadapi era globalisasi. Para guru juga harus mampu membimbing peserta didik untuk memahami realitas, memaksimalkan potensi dan akhirnya mengembangkan kepribadian di tengah-tengah masyarakat global. 

Selain peran guru dalam dunia pendidikan, memasuki era informasi yang serba instan ini setiap masyarakat pasti membutuhkan pusat informasi dan pengetahuan. Salah satu pusat informasi pengetahuan dan teknologi bisa masyarakat akses atau dapat dari sekolah yang merupakan lembaga pendidikan untuk melatih kompetensi siswa agar mampu dan dapat bersaing dalam era informasi teknologi. Didalam menentukan pilihan untuk menyekolahkan anaknya, setiap masyarakat menginginkan sekolah mempunyai modal pendidikan yang tetap yaitu tanah, bangunan, guru dan tenaga kependidikan, agar nantinya tidak hanya menghasilkan output/keluar secara kuantitas saja namun dapat menghasilkan outcome/dampak yang dapat memberikan peranan yang lebih bagi masyarakat sekitarnya. 

Sekolah dalam upaya peningkatan mutu pendidikan berusaha untuk mewujudkan sekolah unggul. Tetapi, keinginan memiliki sekolah unggul pada praktiknya sekolah sebagai lembaga pendidikan terkadang sudah merasa puas dengan kualitas yang sedang-sedang saja. Sehingga peranan masyarakat dalam upaya peningkatan mutu pendidikan dapat memberikan kontribusinya perlu dikembangkan agar dapat mendukung sekolah untuk mampu tetap konsisten dalam upaya peningkatan mutu pendidikan bagi siswanya, tidak hanya sedang-sedang saja namun lebih optimal. Tidak bosan-bosannya para pemerhati pendidikan berusaha meningkatkan mutu pendidikan sekolah, tidak hanya pemerintah tetapi juga masyarakat mempunyai peranan yang cukup penting pula dalam masalah peningkatan mutu pendidikan. Konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah yang berorientasi pada peran serta masyarakat dalam upaya peningkatan mutu pendidikan mulai dikembangkan di sekolah-sekolah seiring dengan berlakunya otonomi daerah yang menuju otonomi sekolah.


Kehidupan suatu bangsa salah satunya ditentukan oleh tingkat pendidikanya. Sehingga peran serta semua perangkat pendidikan baik guru, sekolah, masyarakat dan pemerintah sangat diperlukan untuk bersinergi di dalam era globalisasi informasi dan teknologi, karena suatu bangsa yang pendidikanya maju, tentu kehidupanya juga maju, demikian pula sebaliknya. Untuk itu, pendidikan dalam hal ini harus peka terhadap persoalan masa depan sehingga diperlukan visi yang sesuai dengan era globalisasi agar pendidikan dapat diterjemahkan menurut realitas pada masanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar